12.25.2012

Pendidikan Islam Pada Masa Wali songo



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Walisongo berarti sembilan wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Mereka tinggal di pantai uatara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gersik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradapan baru : mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Era walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu – Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pendidikan Pada Masa Walisongo
Interelasi Islam dan kebudayaan jawa di bidang pendidikan tidak lupa dari perjuangan Walisongo dalam mengislamkan tanah jawa dan perkembangan pendidikan pesantren di tanah Jawa. Secara historis, asal-usul pesantren tidak dapat di pisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo abad 15-16. pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik di Indonesia. Lembaga pendidikan ini telah berkembang, khususnya di Jawa selama berabad-abad.
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan di jawa, tempat anak-anak muda bisa belajar dan memperoleh pengetahuan keagamaan yang tingkatnya lebih tinggi. Alasan pokok munculnya pesantren ini adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional, karena disitulah anak-anak muda akan mengkaji lebih dalam kitab-kitab klasik berbahasa arab yang ditulis berabad-abad yang lalu.
Ada ahli sejarah yang menganggap bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan pra-Islam, yang disebut mandala. Mandala telah ada sejak sebelum majapahit dan berfungsi sebagai pusat pendidikan semacam sekolah dan keagamaan. Bangunan mandala dibangun di tas tanah perdikan yang memperoleh kebebasan sangat luas dari beban-beban penyerahan pajak, kerja rodi, dan campur tangan pihak kraton serta pemilik tanah yang tidak berkaitan dengan keagamaan. Mandala adalah tempat yang di anggap suci karena di situ tempat tinggal para pendeta atau par pertapa yang memberikan kehidupan yang patut di contoh masyarakat sekitar karena kesalehannya, dan laen-laen.
Pesantren dan mandala mempunyai persamaan-persamaan, diantaranya:
1.      Sama-sama memiliki lokasi jauh dari keramaian di pelosok yang kosong dan berada pada tanah perdikan atau desa yang telah memperoleh hak istimewa dari penguasa. Banyak pertapaan atau mandala di bagian timur jawa di masa Hindu yang dihuni para resi yang menjalankan latihan rohani sambil bertani. Persamaan itu ia contoh kan sebagaimana sunan kalijaga yang sering bersemedi dan melakukan tirakat di pertapaan mantingan yang sepi, yang hal itu juga dilakukan oleh para resi dalam tradisi pra-Islam.
2.      Lembaga pendidikan keagamaan Hindu Buddha mandala dan lembaga pendidikan keagamaan Islam pesantren sama-sama memiliki tradisi ikatan guru murid. Guru adalah bapak bagi murid dan murid berbapak kepad gurunya. Ikatran guru murid ini merupakan ciri yang umum dalam kehidupan di mandala, yaitu murid yang jauh dari orang tuanya diserahkan pendidikannya kepada guru sebagai pengganti orang tua di lembaga pendidikan pra Islam. Hubungan guru murid juga menjadi ciri dalam pendidikan Islam, terutama karena perkembangan lembaga tarekat-tarekat yang berada di pesantren.
3.      Tradisi menjalin komunikasi antardharma, yang juga dilakukan anatara pesantren dengan perjalanan rohani atau lelana. Mengambil contoh perjalan hayam wuruk yang diiringi oleh rombongan keraton untuk mengunjungi satu pertapaan ke pertapaan yang lain. Tapi ini berbeda dengan pengembangan rohani dalam tradisi pesantren dengan tradisi agama Hindu Budha. Pengembaraan rohani tersebut sangat berkaitan dengan perjalanan ilmiah yang ingin dicapai dalam tradisi pesantren, yaitu untuk menambah ilmu. Perjalanan ilmiah atau yang sebut rihlah ilmiah memunculkan santri [berarti siswa atau murid sebuah pesantren] yang terus menerus ingin menambah ilmunya.
4.      Metode pengajarannya yang disebut halaqah [lingkaran]. Dalam halaqoh kiai biasanya duduk dekat tiang, sedangkan para murid duduk di depannya membentuk lingkaran. Dalam halaqoh biasanya murid yang lebih tinggi pengetahuannya akan duduk pada posisi yang lebih dekat dengan kiai dari pada murid yang lainnya.
Tokoh sejarawan lain yang menduga bahwa pesantren merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan keagamaan Hindu Budha mandala di tanah Jawa adalah pendapat Simanjuntak. Ia menyatakan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam telah mengambil model dan tidak mengubah struktur organisasi dari lembaga pendidikan mandala pada masa Hindu. Pesantren hanya mengubah isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi sarana bagi pemahaman pelajaran agama, dan latar belakang para santrinya.
Demikian pula Abdurrahman Mas’ud berpendapat bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan Islam memiliki kesinambungan dengan lembaga pendidikan gurucula yang telah ada di masa pra Islam di Jawa. Pesantren memiliki akar budaya, ideologis, dan historis dari lembaga pendidikan Hindu Budha yang dilestarikan dengan memberikan modifikasi substansi yang bernuansa islami.       Pendekatan pendidikan yang digunakan Walisongo diantaranya yaitu sebagai berikut:
a.       Modeling
Yang perlu ditegaskan disini adalah bahwa modeling mengikuti seorang tokoh pemimpin merupakan bagian penting dalam filsafat jawa. Walisongo yang menjadi kiblat kaum santri tentu berkiblat pada guru besar dan pemimpin muslimin, nabi Muhammad SAW.
b.      Substansi Bukan Kulit Luar
Ajaran al-Qur’an dan hadits pada dasarnya berkisar dengan hubungan tuhan dengan makhluk di bumi, dan tentang bagaimana agar makhluk selamat lahir batin, dunia akhirat. Dengan demikian, tujuan Walisongo adalah untuk menerangkan bagaimana menerapkan teori modalitas hubungan Allah dengan hambanya agar mudah ditangkap. Maka, ajaran tauhid adalah salah satu materi pokok yang disajikan sejak awal. Karena lebih mengutamakan pendekatan substantif, maka jika terlihat pendekatan Walisongo sering menggunakan elemen-elemen non Islam, sesungguhnya hal ini adalah alat untuk mencapai tujuan yang tidak mengurangi subtansi dan signifikansi ajaran yang diberikan.
c.       Pendidikan Islam yang Tidak Diskriminatif
bahwa pendidikan Islam Walisongo ditujukan pada masa dapat dilihat pada rekayasa mereka terhadap pendirian pesantren. Pendidikan yang merakyat ini justru dijadikan akibat dalam dunia pendidikan pesantren dewasa ini. Pendekatan pendidikan Walisongo dewasa ini telah berkembang dalam tradisi pesantren seperti kesalehan sebagai cara hidup kaum santri, pemahaman, dan pengaripan terhadap budaya lokal, semua ini adalah bagian dari warisan Walisongo.
d.      Dengan pendekatan kasih sayang
bagi Walisongo, mendidik merupakan tugas dan panggilan agama. Mendidik murid sama halnya mendidik anak kandung sendiri. Pesan mereka dalam konteks ini adalah “sayangi, hormati, dan jagalah anak didik mu, hargai lah tingkah laku mereka sebagaimana engkau memperlakukan anak turunan mu. Beri mereka makanan dan pakaian hingga mereka dapat menjalankan syariat islam, dan memegang teguh ajaran agama tanpa keraguan.

           












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan  uraian diatas tentang Walisongo beserta dakwahnya maka disimpulkan sebagai berikut :
  1. Wali dalam babad merupakan julukan yang diberikan kepada para penyebar Islam pada periode awal di pulau Jawa. Jumlah mereka tidak terbatas, tetapi sebagai dewan wali anggotanya terdiri dari sembilan orang, yang kemudian dilembagakan sebagai Walisongo.
  2. Dakwah yang digunakan para Walisongo tidak melakukan konfrontasi dengan budaya masyarakat yang ada melainkan dengan “tapa ngeli” ( mengikuti aliran air ) dengan kebiasaan yang berlaku dan memberi baju Islam, atau memberi pesan-pesan keislaman.
  3. Media yang digunakan dalam dakwah para wali adalah melalui media kesenian ( tembang dan wayang ), media pelayanan kebutuhan dasar masyarakat, dan melalui jalan perkawinan.
  4. Ajaran Walisongo adalah sebagaimana yang dianut oleh masyarakat muslim Indonesia, yakni Islam Ahlus Sunnah yang berdasarkan ajaran salaf yang ortodok.
5.      Dari rangkaian sejarah pendidikan yang panjang ini  ada satu esensi yang bisa kita ambil yaitu seperti apapun bentuknya, keberhasilan pendidikan pada dasarnya tidak hanya tanggungjawab dari pengelola pendidikan saja tetapi juga menuntut peranan dari orang tua yang tidak kalah pentingnya. Sejarah akan terus berulang, pendidikan harus di mulai dan berawal dari keluarga.




















BAB III
DAFTAR PUSTAKA

Zaini Muchtarom, Islam di Jawa Dalam Perspektif Santri dan Abangan, Jakarta: Salemba Diniyah, 2002.
Anasom, dkk, Merumuskan Kembali Interpelasi Islam Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2004.
Suwendi, M. Ag, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Anasom, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2000.
H. Syamsul Nizar, Sejarah Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam: Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, Ciputat: PT. Ciputat Press Group, 2005.
Chodijian, Achmad, Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2007.
Rohimsah, Legenda dan sejarah Walisongo, Surabaya: Amanah.
Rohimsah, Kisah Walisongo, Surabaya: Karya Gemilang Utama.
Solichin, Salam, Walisongo, Kudus: Menara Kudus, 1960.
Sofwan, ridin, dkk, Islamisasi di Jawa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
www.pesantren.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar